Francis Halzen Raih Nobel Fisika 2026 atas Kontribusi pada IceCube
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan pada 6 Oktober bahwa Francis Halzen, profesor di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, menerima Nobel Fisika 2026 atas kontribusi penting terhadap Observatorium Neutrino IceCube dan penemuan neutrino berenergi tinggi yang berasal dari proses astrofisika.

Tanggal berita: 2026-10-06 · Diperiksa: 2026-10-08 (Asia/Bangkok)
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan pada 6 Oktober bahwa Francis Halzen, profesor di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, menerima Nobel Fisika 2026 atas kontribusi penting terhadap Observatorium Neutrino IceCube dan penemuan neutrino berenergi tinggi yang berasal dari proses astrofisika.
Tiga poin utama
- Halzen menerima penghargaan penuh Nobel Fisika 2026 atas kontribusinya pada IceCube.
- IceCube memakai sensor di dalam es Antarktika untuk mendeteksi interaksi neutrino yang langka.
- Alasan penganugerahan mengikuti pengumuman resmi Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia.
Sampul menggabungkan foto arsip beratribusi dan ilustrasi; bukan foto peristiwa berita. · topic.red; underlying photo Christopher Michel / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 · CC BY-SA 4.0 (cover adaptation)
Penghargaan Nobel untuk kontribusi pada IceCube
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menetapkan Francis Halzen, profesor fisika University of Wisconsin–Madison, sebagai penerima Nobel Fisika 2026. Akademi menyebut kontribusi pentingnya terhadap Observatorium Neutrino IceCube dan penemuan neutrino berenergi tinggi dari sumber astrofisika. Situs Nobel mencatat Halzen sebagai penerima tunggal.
University of Wisconsin–Madison menyebut Halzen sebagai profesor fisika dan menerangkan bahwa proyek tersebut melibatkan tim peneliti serta insinyur dari berbagai bidang.
Detektor di bawah es Antarktika
Neutrino sangat jarang berinteraksi dengan materi sehingga pendeteksiannya membutuhkan instrumen berskala besar. IceCube menggunakan sensor di dalam es di bawah stasiun Kutub Selatan untuk menangkap cahaya dari interaksi yang langka. Observatorium itu mencakup sekitar satu kilometer kubik es dan selesai dibangun pada 2011, menurut komite Nobel.
Akademi menjelaskan bahwa neutrino berenergi tinggi dapat membantu peneliti mempelajari lingkungan yang menghasilkan partikel energetik di alam semesta. Artikel ini mengikuti penjelasan resmi dan profil universitas, serta tidak mengatribusikan seluruh kerja kolaborasi kepada satu orang.
